Feed on
Tulisan
Komentar

Narkoba; Narako Baa?

Peringatan apa lagi yang hanya bisa untuk menasehati pelaku kejahatan narkoba? Bila semua cara tidak membuat jera, harus bagaimana. Kalimat seperti ini menjadi layak untuk kita carikan solusi bersama.

Narakopun di caritoan kaba ka pemakai, pengedar dan sindikat tu indak juo jera do. Kini alah tibo pulo peringatan Hari Anti Narkoba International, indak nampak tando-tando ka abih pelaku nyo do. Baiak nan baru sakedar mancaliak-caliak jo mancubo-cubo, memakai, pancandu, pangedar dari kelas 1 sampai nan indak berkelas.

Jadi baa caronyo kini lai. Alah babalai awak jo bahaso. Mukasuiknyo alah babahaso satangah balai, tapi asa yo jan sampai putuih.

Narako Baa?

Kok di patakuikjo narako indak mampan juo do. Sabab hati tu bana nan alah takoveri. Kalau kecek urang arab kufur. Kalau lah kufur tu samo sajo dek nyo. Di agiah paringatan atau tidak diberi peringatan mereka tidak akan beriman. Nah. Yo lah. Kalau baitu, caronyo baa.

Ciri Kampus Bermartabat boleh jadi seperti berikut ini. Simak ya. Ini pendapat lho. Minimal membantu mendefenisikan bermartabat. Boleh sepakat atau tidak. Itu sah-sah saja. Tidak ada paksaan. Atau jangan-jangan masih banyak ciri-ciri yang lain yang belum termasukkan.

Eit..ntar dulu. Bermartabat di sini akan lebih banyak dikaitkan dengan cita-cita kampus madani, dan negara madani. Yup. Paling tidak memperjelas pandangan dakwah kampus tentang kampus madani yaitu sebagai berikut ;

Religius (Religious)

Ciri pertama civitas madani adalah religius. Yaitu masyarakat dengan ketersediaan fasilitas peningkatan pemahaman berislam yang mudah diakses. Civitas yang religius selain mengenal Islam secara teori (nazhoriyah), juga memperhatikan penegakan nilai-nilainya secara utuh (tathbiqiyah). Mulai dari personal, institusi, sarana, budaya, dan aturan main yang berlaku.

Institusional (Institutional)

Dalam masyarakat yang plural, tidak hanya aturan yang dibutuhkan, namun juga pengaturan. Pluralitas tanpa institusionalisasi yang baik berarti kekacauan.. Dalam kemadanian, institusi penting untuk memiliki kredibilitas yang baik. Pola pendekatan yang jujur dan dialogis adalah prasyarat kredibilitas publik terhadap institusi.

Konstitusional (Constitutional)

Civitas madani adalah masyarakat yang memiliki aturan yang lengkap dan mentaatinya dengan pemahaman. Aturan masyarakat dalam civitas madani bersumber dan terinspirasi dengan nilai-nilai Islam. Itulah kenapa Islam disebut sebagai agama yang beradab. Keberadaban akan lahir ketika setiap anggota masyarakat memiliki pemahaman akan haknya, memperjuangkan haknya, dan melawan jika haknya dirampas.

Terdidik (Intellectual)

Civitas madani adalah masyarakat yang mencintai ‘ilmu dan cita peradaban. Masyarakat semacam ini memiliki sarana bagi warganya untuk meningkatkan kredibilitas profesional (core competence, management, and strategic thinking), kredibilitas moral (komitmen nilai), dan kredibilitas sosial (human relation).

Cinta damai (Peaceful Oriented)

Civitas madani adalah masyarakat yang mencintai keharmonisan antar komponen. Cintanya lintas batas (borderless), kepada siapapun, baik kepada sesama manusia, maupun alam. Dimanapun, baik yang dekat ataupun yang jauh. Maka siapapun yang pro-anarkisme, rasialisme, terorisme, kekerasan, kolonialisme adalah musuh bersama. Sebaliknya, terhadap mereka yang terganggu kedamaiannya, masyarakat ini menunjukkan pembelaannya.

Egaliter (Egalitarian)

Civitas madani adalah masyarakat yang tidak membedakan warganya atas simbol-simbol duniawi. Merdeka dari feodalisme dan senioritas, serta budaya lain yang dibangun atas pembedaan kasta umur, usia, jabatan, atau pekerjaan.

Berkeadilan (Justice)

Civitas yang berkeadilan adalah masyarakat yang menjaga hak agama, harta, akal, jiwa, keturunan. Dimana setiap persoalan sesuai porsinya. Seseorang mendapatkan ganjaran atas apa yang diperbuatnya sendiri, sekaligus tidak mendapatkan hukuman atas sesuatu yang tidak diperbuatnya.

Berorientasi pada teknologi (Technology Oriented)

Civitas madani adalah masyarakat yang berlayar di atas kemajuan zaman. Masyarakat mengerahkan segala kemampuan dan sarananya untuk da’wah Islam.

Tanah Air Mata

Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami

di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami

di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami

kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana

bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata

(Sutardji Calzoum Bachri)

Baju Ang dan Baju Den

Bajuang ka bajuang se mah. Baju den bagai malah agak sakali-sakali.

Kalimat apa itu? Inikah kalimat orang yang lelah dan jemu berjuang. Atau sekedar joke ringan pengisi pertemuan. Atau selingan sebagai ungkapan kelelahan.

Bila Jenuh Melanda
Hey, jangan jenuh. Ngapain jenuh. Jenuh itu menjenuhkan. Jangan biarkan diri ini tenggelam dalam kejenuhan. Lawan. Ya sekarang. Bila itu sulit untuk melawannya, maka lawanlah kesulitan untuk melawan itu. Lalu termotivasilah. Dan termotivasilah sebelum di motivasi. Tak perlu terlalu bergantung dengan motivasi luar. Bangunlah duniamu. Bangunlah surgamu sendiri. Sebab tidak ada yang bisa memaksa diri ini untuk kebaikan kecuali diri itu sendiri.

Tergantung pada selalin diri, biarlah itu mutlah untuk Allah. Pada manusia lebih tepat sebagai muamalah pertanda Islam itu fitrah yang membutuhkan orang lain. So, Lawan!

Out Bound kali ini spesial. Beda dari yang pernah ada. Unik, menarik dan mmm…apalagi ya? Oya, yang pasti punya kenangan dan kesan yang begitu kuat. Mungkin saja itu bukan miliknya kami (Bromat Training Centre), tapi juga bagi peserta.

Outboundnya Trust Fall, Blind Lead, Kungfu Bridge, Spider Web dan Flying Fox. Disamping itu juga ada Profit Game mengasah jiwa enterprenuer peserta. dilengkapi dengan Field Trip di Tahura Bung Hatta.

Oh My English
English Tarzan. Itulah yang ada. Bahasa Inggris yang campur sari. Campur Indonesia Raya, Campur minang dan tak jarang campur INDOMI alias Indonesia Minang. Misalnya aku yang bertugas di Blind Lead Stage, bilang aja post yang Blain (Berlain atau berbeda). Ada saling memperbaiki. Memngaup-grade englishnya masing-masing. lef, right, move, go ahead dan sesekali “merunduk’ please. He..he… Tapi no what-whatlah. Yang penting, Ini menjadi penting. dari pada dari pada lebih baik kan lebih baik. Lanjut Baca »

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS. (Taufik Ismail, Tuhan Sembilan Senti)

Kendati berbahaya, rokok tetap menjadi konsumsi banyak orang. Hampir di setiap lapisan masyarakat ada yang mengkonsumsinya. Dari konglomerat sampai yang melarat, dari pejabat ataupun tukang angkat. Laki-laki dan perempuan tidaklah penghalangnya.

Dokter yang ahli paru-paru pun tak ketinggalan. mungkin saja melupakan seketika ilmunya bila hendak merokok. Masyarakat miskin dengan himpitan ekonomi, memaksakan diri berhutang agar bisa merokok. Anggota dewan, para pejabat, anak SD, para petani dan juga ustadz tak sedikit yang tetap saja merokok.

Tidak ada yang bisa menghentikan para perokok untuk tetap merokok melain dirinya sendiri. Nasehat-nasehat tentang bahaya rokok, malah dia sendiri lebih memahaminya. Tapi semua itu tidak membuat mereka berhenti merokok.

Peringatan pemerintah,” Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung Impotensi Dan Gangguan Kehamilan Dan Janin” tidaklah efektif. Tidak menjadi ancaman yang menakutkan bagi para perokok. Tidak juga mampu memberikan upaya antisipatif agar tidak merokok. Bahkan peringatan itu dijadikan sebagai bahan olokan atau guyonan.

Lanjut Baca »

Pemerintah resmi menaikkan bahan bakar minyak (BBM) mulai pukul 00.00 WIB, Sabtu (24/5). Dengan kenaikan itu, premium (bensin) naik menjadi Rp6.000 per liter, solar Rp5.500 per liter, dan minyak tanah Rp2.500 per liter.

Kenaikan terbesar pada premium, naik 33 persen, karena harga sebelumnya hanya Rp4.500 per liter. Sedankan solar naik 28 persen dari Rp4.300. Sedangkan minyak tanah hanya naik 20 persen atau Rp500 dari harga semula Rp2.000.

BBM naik, praktis semua kebutuhan akan barang dan jasa naik alias bertambah mahal. Ongkos oto luruih, patang se alah barubah kecek kawan. Parahnya begitu besar perubahannya. Pasar Baru ke Pasar Raya misalnya, kita harus merogoh kocek Rp. 3000,00. Naik seribu rupiah dari biasanya. Begitu juga dengan bus kota, yang biasanya hanya Rp.1500 sekarang berapa ya?

Masa transisi, Suko Hati
Biasanya angkot atau bus di kota Padang tidak segan-segan menaikkan tarif awal. Lagi pula belum ada surat edaran sebagai aturan berapa tarif angkot dan bus kota. Sehigga semuanya berlalu, suko hati pak sopir atau knektur.

Tak jarang juga bus kota sebelumnya, bila kita berikan uang Rp. 2000,00 yang seharasnya ada kembaliannya lima ratus, inyo acuah se. Kalau di minta kembaliannya, “tunggu lu da” sambil memperlihatkan tidak ada uang kembaliannya.

Untuk itu perlu uang pas. Bila ongkosnya Rp. 2000,- baiknya disiapkan dua ribu. Seperti yang banyak tertera di diding bus tersebut. “Bayar dengan Uang Pas”. Kalau kelebihan, dan tidak ada kembaliannya sepertinya perlu mengikhlaskannya. “Ganti-ganti sadakah bagai na. Baa gak ati?”

Satu abad kebangkitan nasional, kita peringati dalam suasana ketidaknyamanan. Sebab ada kedukaan yang teramat di negeri ini; ada kegelisahan yang kian menyeruak; ada harapan yang terpasung di alam kenyataan. Semangat kebangkitan tak kunjung menjelma keseluruh anak bangsa. Semangat persatuan, cita-cita kemerdekaan, impian kesejahteraan dan juga cita-cita reformasi seperti kian hilang lenyap dalam intrik dan retorika politik.

Kembali, kita masih berada di persimpangan sejarah yang sulit. Bendera merah putih masih enggan berkibar gegap gempita. Hanya lagu ibu pertiwi lagi bersedih hati yang masih mengiringi. Dalam genangan air mata dan duka itulah kita memeperingati kebangkitan nasional lagi.

Lagu Lama Untuk Para Pemuda

Bangun pemuda pemudi Indonesia.
Lengan bajumu singsingkan untuk negara.
Masa yang akan datang, kewajibanmulah.
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.

Lagu bangun pemuda pemudi ini seolah menyapa kita para pemuda. Mungkin dengan intonasi hardikan. Kerinduan ini bukan saja pada syair atau kata-katanya. Tapi juga pada ruh dan semangatnya, pada kobaran dan geloranya, pada nuansa dan realitasnya. Terlintas perjuangan generasi muda beberapa episode sebelumnya. Tersebutlah angkatan-angkatan mereka dalam kenangan sejarah yang kian diulang-ulang. Angkatan 08, 28, 45, 65, 74 ataupun 98. Sayang, sejarah—hari ini—hanyalah mengenang sejarah. Sehingga tidak (belum) ada sejarah baru yang tercipta dengan kualitas semisal karya mereka.

Bukan Sembarang Pemuda

Selamanya, para pemuda adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, sejarah segera mencatat peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi. Sebuah lembaran kehidupan baru dan buku sejarah menusia telah dibuka.

Akan tetapi, anak muda macam manakah mereka? Jawabannya, ”mereka adalah anak-anak muda yang telah beriman kepada Tuhan mereka, lalu Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (Al-Kahfi: 13)
Demikianlah kegelisahan menjadi isyarat dari anak-anak muda, bawa peristiwa baru akan lahir dari rahim sejarah. Kegelisahan memberi energi, dan energi itu tumpah ruah dalam semangat perlawanan dan pembelaan. Maka, ada peristiwa ada sejarah. Bila kegelisahan sudah sampai pada titik klimaksnya, tunggulah energi peradabannya. Termasuk kegelisahan pemuda dengan permasalahan yang menimpa sebagian para pemuda yang lainnya.

Para pemuda perlu kembali mengkonsolidasikan diri. Lupakan friksi-friksi. Bersatulah dalam bendera anak bangsa yang siap mendendangkan lagu sorak-sorak bergembira. Buatlah ibu pertiwi yang lagi bersedih hati, tersenyum di bawah panji-panji kebenaran dan keadilan. Sebab, sepertinya sejarah telah terlanjur mempercayakan kepada para pemuda untuk menginisiasi sebuah perubahannya

Sumbar mau acara FSLDK daerah di STAIN Jamil Jambek Bukittinggi, 29 Mei - 3 Juni 2008. Semoga Sukses.

Bagaimana pertumbuhan LDK Sumatera Barat. Cukup bagus, begitu jawaban para penanggung jawab di FSLDK. Buktinya ada kampus-kampus yang punya LDK baru atau minimal punya komunikasi intens dengan FSLDK. Selain itu, FSLDK mulai semakin kokoh di daerah-daerah. Bahkan sekarang FSLDK Sumbar mempunyai 5 BP Puskomda. Di kota Padang 3 kampus (IAIN, UNP, UPI YPTK) dan 2 kampus berada di luar kota padang (STAIN Bukitting dan Stain Batu Sangkar). Konon kabarnya akan dibukan BP baru di kota Pariaman dengan perkembangan STIT Pariaman.

Lalu dengan demikian, instrospeksi apa yang harus kita lakukan?

ah…belum selesai. tapi upload aja dulu. Sudah azan. Dan kalau ada masukan tentang hal yang perlu dinterospeksi…please, tuliskan di sini. Tingga patiak jo takan (sorry bahasonyo campua ;) )

Menjadi kesadaran yang teramat dari pimpinan kampus bahwa unand tidak belum bermartabat. Buktinya, visi kampus disepakati dengan kalimat ‘Unand Terkemuka dan Bermartabat’. Artinya sekarang ini memang tidak bermartabat. Kalau sudah bermartabat, tentu tidak perlu lagi membuat visi yang semisal dengan itu. ;)


Gambaran Bermartabat Yang Buram

Selain itu ada hal yang menarik lagi, persoalan standarisasi bermartabat. Kita tentu mendukung sangat program menuju kampus terkemuka dan bermartabat. Sayangnya, gambaran tentang bermartabat itu sendiri seakan buram dan begitu kelam. Bermartabat yang bagaimana sebenarnya yang kita tuju. Artinya butuh defenisi yang real dari kata bermartabat. Harus ada point-point bermartabat yang hendak kita inginkan itu. Sebab semakin jelas tujuan yang kita tuju, semakin mudah untuk memperolehnya. Nah, bila gambaran bermartabat saja tidak selesai dalam tataran imajinasi kita, lebih sulit lagi untuk dilisankan dan dituliskan. Bila dilisankan saja sudah kesulitan alias tak terdefenisi, apalagai untuk mewujudkannya. Sehingga kita tidak sampai dimana-mana.

Contoh kalau pakaian sopan sebagai salah satu item dalam bermartabat, maka berpakaian sopan itu juga punya pemaknaan karet. Selagi standarnya tidak jelas, maka makna sopan itupun bisa ditarik ke kiri dan ke kanan sesuai dengan siapa pendefenisinya. Tapi bila ada standarisasi yang jelas, maka tentu lebih mudah. Begitu jugalah kiranya dengan kampus bermartabat yang kita usung ini. Kita masih mengawang dengan makna bermartabat. Pengakuan bahwa kita tidak bermartabat sudah, sekarang bermartabat yang bagaimana?

Bersama Membangun Kampus Bermartabat
Sangat sepakat dengan adanya semangat membangun kampus bermartabat secara bersama-sama. Karena tidak mungkin hanya dicover oleh Pak Rektor saja. Butuh dukungan ekstra dari civitas akademika. Kita yang bukan pengambil kebijakan, salah satu wilayah peran kita dengan mempersembah ide dan masukan. Bukan sekedar mengkritisi. Sehingga, masdokar (mahasiswa, dosen dan karyawan) bisa bersatu padu bahu membahu mewujud cita-cita bersama, kampus bermartabat.

Martabat Versi Pak Rektor
Kita dengarkan evaluasi perjalanan kampus bermartabat. Bermartabat yang bagaiamana yang hendak kita tuju? Lalu sampai di mana perjalanan kita menuju kampus bermartabat? Kendala apa saja sebenarnya yang kita hadapi? Berharap pak Rektor menuangkan dan menghidangkannya kepada masyarakat kampus melalui seminar “meneropong Kampus bermartabat” pada hari Sabtu, 24 Mei 2008 di Auditorium Universitas Andalas.

Older Posts »