Malas. Inilah penyakit kelas berat. Obatnya hanya tidak malas. Bagaimana supaya tidak malas? Jawabannya tentulah rajin. Lalu cara untuk rajin, ya…Jangan malas. Busyet
.
Malas berpikir hanyalah satu ruang dari begitu banyak perasaan malas. Kemalasan berpikir menjadikan otak-otak pensiun dan berhenti bekerja. Mungkin saja mati sebelum ajal tiba. Lalu kenapa malas berpikir?
Banyak memang teguran agar berpikir. Bukan hanya dalam Al-qur’an yang sering menghardik orang orang yang malas berpikir, tapi juga hari-hari kita. Makanya berpikirlah. Co PIKIA. Afala tatafakkarun.
Kenapa Malas Berpikir
Keseluruhan dari proses berpikir, menuntut kerja dan amal nyata. Apapun yang dipikirkan. Termasuk memikirkan kejahatan juga menuntut tindakan. Berpikir agar punya banyak uang, konklusinya mungkin saja harus mencari uang. Bagaiamana caranya? Lagi-lagi harus bekerja. Entahkah itu jadi enterprenuer alias pengusaha, pegawai kantoran, penarik becak, tukang angkat, atau penulis handal dan apa saja. Yang jelasan konkluisnya akan menuntut AMAL.
Tuntutan amal sebagai konklusi berpikir adalah salah satu penyebab orang malas berpikir. Kalau ingin masuk syurga, jadilah orang baik. Bagaimana supaya jadi orang baik? Langkah apa yang harus ditempuh? Bahkan keseluruhan item-item yang menjadi simpul-simpul pendukungnya mengharuskan amal sebagai tuntutannya. Sembilan puluh sembilan persen.
Semakin banyak berpikir, semakin banyak kesimpulan yang mangarahkan untuk beramal dan bekerja nyata. Cobalah berpikir. Seketika ada tuntutan amal setelahnya. Jangan biarkan otak ini pensiun dan mati sebelum ajalnya. Selamat berpikir.








Ass…, insyaallah saya ada rencan mau mengikuti Tasqif Rabbani di kampus, kalau boleh profile pematerinya ditampilkan juga ya… di blog atau di web nya. Wass