“Kampuang den jauah di mato…”
Banyak yang memanggil-manggil untuk pulang. Sayup namun kentara. Samar, namun nyata. Ya begitulah. Di libur yang sedikit ada di kalender kita, aku coba curi agenda untuk menyinggahi banyak memori lama. Tentang banyak hal.
Ada guru TK buk yus yang sudah lama tak berjumpa. Begitu girang lagi senang hatinya. Muridnya yang dulu, kini di depan mata. Berkaca matanya. Seperti rindu yang teramat berat lagi bercampur haru. Sekaligus terkenang berucap terimakasih untukmu ibu. Ibu guru.
Seperti juga matamu yang bisa mengalirkan air darinya. Akupun terlanjur terdidik untuk tidak menangis. Anak laki-laki tidak boleh menangis. Begitu lingkungan kecilku mendidik. Tapi ini bukan tangisan. Bukan juga uraian air mata. Sungguh ini bukan tangisan. Ini hanya… Ah. Aku tidak tahu. Apakah setiap air mata yang mengalir di pipi itu bernama tangisan. entahlah. Tapi masih yakin. Ini bukan tangisan.
ibu guru, salam ta’zimku untuk mu.








Wah… sahabat-sahabat, guru itu mulia banget ya…!
Spesial utk sahabat, anggota “Persatuan Anak Guru Indonesia”