Judulnya Meratapi Sejarah
Mei 11, 2008 oleh Hasdi Putra
Inilah bulan-bulan penuh kenangan. Ulangan tahun-tahun panen sejarah. May day, Hari Pendidikan Nasional, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi dan Reformasi 98 nya, Hari Kebangkitan Nasional dan apalagi. Yang tertulis hanyalah beberapa. Selebihnya adalah genangan kenangan yang tak sempat dituliskan para wartawan ataupun kritikus yang tidak diorbitkan.
Sejarah adalah gunungan penderitaan. Tak sekedar potongan-potongan kepedihan. Menyayat nyayat diris-iris kesedihan. Ada juga tangis tak tererangkan. Tapi sejarah tidak kunjung mau menyerah dikedalaman air mata. Entah bahasa apa lagi yang harus dipohonkan.
Lalu, mungkinkah kehidupan dimulakan. Atau bisakah sejenak untuk sekedar menyangga matahari. Dan kita berpikir lagi. Ditengah sesayup ingatan ini. Duhai masa lalu melintaslah pergi. Mengapa tidak tidak ada masa depan di belakang hari-hari. Sehingga memungkinkan sejarah bisa berlutut di kaki pagi.
Ah, Meratapi sejarah. Inilah cerita hari. Lihat saja matanya. Nanar atau kadang-kadang sayu, lesu dan tak bercahaya. Dimelimpah hujannya meranggaslah pohon sejarah, tak bisa lagi berbuah. Tenggelamkan ladang-ladang, sawah dan hutan yang juga dijarah para penguasa. Rakyat-rakyat sipil tak berdaya hanya bisa mengantri hujan berkah. Di jahitan lusuhnya bendera yang kini sobek-sobek lagi, masih ada bercak-bercak anyirnya darah beku tak terbebaskan dari luka.
Membangun Rumah Harapan
Bila ada yang tersisa, biarlah dia harapan. Bila ada yang tertawan, biarlah dia kenangan. BIla ada yang terangkai, mungkinkah itu cinta. Tak selesai mengejanya. Biarlah sejarah yang akan mengabarkannya. Kelak, dihelai ranting daun sejarah, ada saja tunas-tunas yang mungkin kelak juga bisa berbuah padanya. Mungkin ini terlalu prematur untuk dipostingkan. Tapi setidaknya menjadi sejarah, jugalah.
















