Satu abad kebangkitan nasional, kita peringati dalam suasana ketidaknyamanan. Sebab ada kedukaan yang teramat di negeri ini; ada kegelisahan yang kian menyeruak; ada harapan yang terpasung di alam kenyataan. Semangat kebangkitan tak kunjung menjelma keseluruh anak bangsa. Semangat persatuan, cita-cita kemerdekaan, impian kesejahteraan dan juga cita-cita reformasi seperti kian hilang lenyap dalam intrik dan retorika politik.
Kembali, kita masih berada di persimpangan sejarah yang sulit. Bendera merah putih masih enggan berkibar gegap gempita. Hanya lagu ibu pertiwi lagi bersedih hati yang masih mengiringi. Dalam genangan air mata dan duka itulah kita memeperingati kebangkitan nasional lagi.
Lagu Lama Untuk Para Pemuda
Bangun pemuda pemudi Indonesia.
Lengan bajumu singsingkan untuk negara.
Masa yang akan datang, kewajibanmulah.
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.
Lagu bangun pemuda pemudi ini seolah menyapa kita para pemuda. Mungkin dengan intonasi hardikan. Kerinduan ini bukan saja pada syair atau kata-katanya. Tapi juga pada ruh dan semangatnya, pada kobaran dan geloranya, pada nuansa dan realitasnya. Terlintas perjuangan generasi muda beberapa episode sebelumnya. Tersebutlah angkatan-angkatan mereka dalam kenangan sejarah yang kian diulang-ulang. Angkatan 08, 28, 45, 65, 74 ataupun 98. Sayang, sejarah—hari ini—hanyalah mengenang sejarah. Sehingga tidak (belum) ada sejarah baru yang tercipta dengan kualitas semisal karya mereka.
Bukan Sembarang Pemuda
Selamanya, para pemuda adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, sejarah segera mencatat peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi. Sebuah lembaran kehidupan baru dan buku sejarah menusia telah dibuka.
Akan tetapi, anak muda macam manakah mereka? Jawabannya, ”mereka adalah anak-anak muda yang telah beriman kepada Tuhan mereka, lalu Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (Al-Kahfi: 13)
Demikianlah kegelisahan menjadi isyarat dari anak-anak muda, bawa peristiwa baru akan lahir dari rahim sejarah. Kegelisahan memberi energi, dan energi itu tumpah ruah dalam semangat perlawanan dan pembelaan. Maka, ada peristiwa ada sejarah. Bila kegelisahan sudah sampai pada titik klimaksnya, tunggulah energi peradabannya. Termasuk kegelisahan pemuda dengan permasalahan yang menimpa sebagian para pemuda yang lainnya.
Para pemuda perlu kembali mengkonsolidasikan diri. Lupakan friksi-friksi. Bersatulah dalam bendera anak bangsa yang siap mendendangkan lagu sorak-sorak bergembira. Buatlah ibu pertiwi yang lagi bersedih hati, tersenyum di bawah panji-panji kebenaran dan keadilan. Sebab, sepertinya sejarah telah terlanjur mempercayakan kepada para pemuda untuk menginisiasi sebuah perubahannya








asm…
subhanallah….more
nyata, Allah masih menyayangin hambaNya
bahwa semakin jelas saudara-saudara ikhwan lain yang peduli sangat kepada saudara lain padahal g selevel..
MORE.. pernah ditanyakan kesalah seorang akhi…’pembesar’ mantan “orang no. wahid FKI RABBANI 2007/2009″
dari g tau maka nanya, disalah satu kejadian takuruang dek hujan, di NURUL ILMI, mencoba nanya more…
Alhamdulillah… sedikit pencerahan.
Malamnya ana nanya lagi kesalah wordpress seorang akhi “mantan orang no. ONE FKI RABBANI periode… afwan,, g’ tau.”..alhamdulillah..fajar menyingsing…
sukron bang… udah bisa insya Allah…
subhanallah…