Ramadhan segera datang. Sebentar lagi. Yap, sekejap lagi. Sudahkah semuanya siap? Ruhiyah, Fikriyah, Jasadiyah, Horokiyah, Maliyah alias rupiah, tentulah harus lebih prima. Sudahkah ada warming up di awalnya. Agar begitu waktunya tiba, kita semakin menjadi luar biasa. Begitu fit dalam kebaikan. Dan kita bisa melanggengkannya untuk masa-masa setelahnya
Sejenak, tengoklah Ramadhan-Ramadhan sebelum. Hal apakah dari kebaikannya yang masih tersisa. Hal positif apa yang bisa kita perpanjang di bulang lainnya, bahkan sampai hari ini. Duh..Rabbi, kerap kali penyesalan mengiri. Ya Rabb, bimbinglah kami. Agar Ramadhan ini menjadi lebih berarti bagi kami, bagi orang tua kami, saudara kami, sahabat kami, pemimpin kami, bangsa dan negara kami, pun juga ummat ini. Amiin yaa rabbal ‘alamin.
Ramadhan dan Gap Dinamika
Sungguh telah terjadi gap dinamika yang begitu luar biasa. Antara Ramadhan dan setelahnya. Antara awal Ramadhan dan akhirnya. Antara Ramadhan generasi dulu dan generasi sekarang. Antara generasi kami dan sebelum kami. Antara kita dan mereka–Rasul dan sahabat, tabi’in, tabi’ tabiin dan seterusnya–sungguh teramat jauh berbeda. Memang, satu nasib yang tak serupa.
Ramadhan satu nasib yang tak serupa. Peluangnya sama tapi hasilnya berbeda. Teringat lirik nasyid itu, justru ketika Ramadhan tahun lalu sudah di penghujungnya. Di saat gema takbir menghampiri, linangan air mata penyesalan mengirinya. Takbir yang hendak kita kumandangkan, adakah ia takbir kemenangan. Dan kita tersadar, mengapa tidak optimal di Ramadhan yang sudah Allah persembahkan. Pada hal entah masih diberi kesempatan bersua dengan Ramadhan mendatang. Wallahu ‘alam. Duh…Robbi. Maafkan kami, Ampuni kami. Semoga Ramadhan ini lebih kami maknai.
Ramadhan Dua Zaman
Ramadhan satu nasib tak serupa
Peluangnya sama natijah berbezaRamadhan mereka gemilang cemerlang
Mukmin berasa di awal zaman
Ramadhan kami malang terbuang
Muslim berdosa di akhir zamanMereka gembira kerana kedatanganmu
Kami gembira dengan pemergianmu
Malam mereka meriah disimbah nur al-Qur’an
Tapi malam kami muram berkabung dengkur
Mereka berlumba mengejar ma’rifat
Tapi kami lesu diburu nafsu
Hati mereka bercahaya digilap taqwa
Jiwa kami gelap didera dosaTakbir mereka takbir kemenangan
Hadiah mujahadah sebulan Ramadhan
Takbir kami lesu tak bermaya
Tanda kalah lemah tak bermaya
Puasa sekadar lapar dan dahaga








ramadhan…biarkan kami bs memaknaimu…ramadhan kali ini haruslah lebih baik,berkesan, n membawa perubahan…
ayo….!!! beres2 rumah, lap kaca2 yg berdebu, tumpukan buku yg berdebu, sudut2 rumah yg berdebu, rumput2 rumah yg sudah berdebu (ups) panjang maksdnya, alas kasur baru nan bersih, tergetan2 selama 1 bulan ramadhan, dll dsb… ayo!!!! bersuka cita menyambut ramadhan dg persiapan jasad, pikiran, n ruh…….!
maliyah u zakat fitrah yo da hasdi?
sajaknya mantap bang hasdi…
tak kuasa diri menahan gejolak kagum, hingga tangan dan kalbu pun ikut-ikutan bersajak ria…
Oiya… we miss u…
Semoga ramadhan kali ini penuh arti….
puisi hasdi selalu bagus dan menyentuh..
apalagi yg ini.. bolehkah dikutip??
assalmu’alaikum
pagi ini tanggal 13 sept 2008 tak sengaja ketika ana membuka blog ana yang lama di http://whypermadi.wordpress.com (sebenarnya minggu ini ana berniat untuk menghapusnya) ada seorang user yang mengatas namakan dirinya sebagai imammahdibangkit memberikan komentar yang cukup “aneh” dari apa yang ana pahami.
melihat komentar2nya, analisa ana dia sengaja memancing umat islam untuk mengomentari apa yang ia katakan, buktinya ia mencantumkan dengan jelas alamat email yang bisa dihubungi bagi siapa saja yang mau mengomntari pendapatnya.
Sepertinya niatan tuk menghapus belog itu secepatnya harus ana tunda untuk beberapa waktu kedepan
ah…kapan ya bisa memaknai Ramadhan sepenuhnya? kapan bisa keluar sebagai pemenang yang sebenarnya?
selama ini cuma janji-janji saja yang terucap “Ramadhan kali ini harus sukses!” tapi nyatanya…
selama ini sepertinya kita cuma pura-pura saja keluar sebagai pemenang..padahal…
Ah..Ramadhan, aku ingin menemuimu lagi tahun depan.