Berharap tanpa amal nyata, adalah jasad-jasad tak berjiwa. Hidupkan ia dengan gerak. Gerak yang memberikan nilai dan makna-makna. Seperti harkat dalam huruf hijaiyah yang berharokah dengan lincahnya. Punya makna dengan kebersamaan yang bersatu padu dalam irama tujuan dan cita-cita. Menyampaikan pesan-pesan rabbaniah. Mengalirkan kebaikan-kebaikan ke setiap sel-sel darah. Terjunlah bebas dan jatuh ke hati-hati manusia. Menyentil kefitrahan yang tercoveri lumpur kekufurannya.
Apa lagi yang ditunggu
tunggu apalagi
jawabnya, sungguh menunggu siapa lagi
Di Jakarta menunggu. Lama mungkin. Apalagi didampingi ketidakpastian. Hanya guyuran hujan selalu. Dari kemarin. Sebagian daerah sudah banjir. Syukur, disini ada banjir-banjir yang dinanti. Banjir cita-cita. Banjir harapan. Banjir hidayah.
Ya, harapan. Harapanlah yang memotivasi seseorang beramal dan bekerja. Memberi yang terbaik untuk kehidupannya. Harapan itu tidak boleh putus. Sambung dan rakit selalu menjadi jembatan-jembatan keyakinan. Seberapa besar keyakinan itu, maka sebesar itu pulalah keberanian kita untuk memperjuangkannya.
Berharap tanpa amal nyata, adalah jasad-jasad tak berjiwa. Hidupkan ia dengan gerak. Gerak yang memberikan nilai dan makna-makna. Seperti harkat dalam huruf hijaiyah yang berharokah dengan lincahnya. Punya makna dengan kebersamaan yang bersatu padu dalam irama tujuan dan cita-cita. Menyampaikan pesan-pesan rabbaniah. Mengalirkan kebaikan-kebaikan ke setiap sel-sel darah. Terjunlah bebas dan jatuh ke hati-hati manusia. Menyentil kefitrahan yang tercoveri lumpur kekufurannya.
Tersingkaplah topeng-topeng kebaikan. Seketika kejujuran mengguncang tabung air mata. Menangis sejadi-jadinya. Tumpah ruah dihadapan-Nya. Dan banjir lagi. Kali ini bersama gerimisnya campuran dosa-dosa.
Apalagi yang ditunggu
Sungguh, telah berlalu masa yang panjang
Aku datang hari ini
Aku datang hari ini
Ya Rabb, banjiri aku dengan hidayah-Mu
Harapan untuk lebih baik, agar beramal lebih simpatik, berbuat lebih manarik, bekerja lebih enerjik, berkarya lebih unik. Ya… di sini. Di tanah yang tak menyisakan gelisah, lagi.
Mungkin penantian adalah cerita lain tentang kesabaran. Tapi menunggu tanpa gerak yang pasti hanyalah menyisakan peluang-peluang yang tak sempat dimanfaatkan. Berjalanlah menelusuri lorong-lorong kenangan, sepertinya cukup mencerahkan. Ada tapak-tapak kisah silam yang masih terpahat kuat. Bukan sekedar ingatan, tapi ia sejarah kehidupan. Mungkin saja..!
Dan kita kembali mengulang harapan-harapan. Ada banyak layar cerita, yang suatu saat nanti bukan lagi sebagai history bagi sebagian. Dan anak-anak sekolah menghafalkannya seperti sejarah para pahlawan.








Sepakat bg, talk less do more..
astaghfirulloh…