Tapi inilah laut-segalanya dilayarkan pada kesunyian
Dalam keramaian di gemuruh ombak tiap puncak zaman o, kerinduan
Mereka labuhkan doa di sembarang dermaga, mereka nyalakan iman
Di sembarang taman seperti katamu, mereka lahir, tumbuh
Hanya untuk berguguran*
Alhamdulillah, sampai juga. Perjalanan Payakumbuh – Padang kali ini tanpa hujan. Tidak seperti biasanya. Tapi dengan panas yang lumayan. Jaket yang beberapa lapis membuat semakin gerah. Kalau dengan sepeda motor, macet tidak terlalu jadi persoalan. Apalagi dengan ridernya yang berpengalaman. Yap, minimal pengalaman jatuh dan tabrakan, cukuplah. :p
Sorotan kuning cahaya dari arah pantai memanggil-manggil meminta perhatian. Cerah dan begitu indah. Sedikit menyilaukan. Cahaya yang kemerah-merahan. Menghiasi kota Padang dari kejauhan. Ingin lebih dekat menikmati pantai.
“Di ma kini? Da di pantai” Putra mengirim kabar melalui SMS pada adiknya. Berharap adiknya menyusulnya ke Pantai. Ingin melipat kenangan di pantai Padang.
“Tunggu di situ Da”, Balas David.
Ia berangkat mendekati pantai. Memang sudah lama sekali dia tidak ke sana. Berjanji di depan danau Cimpago. Danau baru di depan pantai Padang. Besar sedikit dari tobek.
Menunggu di simpang dekat rumah makan Palanta. Duduk di atas motor. Matapun keluyuran mengintai kalau-kalau David, adiknya sudah sampai. Menunggu untuk beberapa waktu, tapi tak kunjung sampai, apalagi bertemu.
Tapi baginya ada perkembangan ‘baru’ di pantai Padang. Lalu lalang kendaraan silang pintang di jalanan sepanjang pantai Padang. Ramainya sangat. Paling banyak anak-anak muda. Hampir saja Pantai Padang seperti suasana pantai didaerah lain yang kerap digambarkan di tabung-tabung Televisi.
Dibawah payung pelangi. Anak-anak muda duduk berpasang-pasangan tidak seperti biasanya. Mereka berduaan laki dan perempuan dengan gayanya masing-masing. Cukup banyak. Sangat banyak. Tak sempat menghitung. Tapi banyak. Hanya gelengan kepala, seolah tak percaya. Semakin kemerahan semakin banyak yang berdatangan. Singgah dan duduk di bawah Payung Pelangi.
Maghrib menjelang, sebagiannya bubar, lebih banyak lagi yang tinggal. Di balik bebatuan mereka terus menikmati pertukaran siang dan malam dengan caranya masing-masing. Sempat saja menyaksikan yang berpelukan. Bimbing mesra, candaannya. Ah, adakah mereka pasangan yang sah melalui pernikahan. Entahlah. Pikir curiga hampir saja tak berguna. Banyak orang hanya membiarkan. Biar pantai tetap ramai. Biar sepanjangan jalan memang penuh dengan keindahan yang dinikmati banyak orang.
Terlintas seketika kenangan tsunami aceh. Di pantainya orang-orang bermain-main. Gempa besar disusul tsunami telah memporak-porandakan Aceh. Meratakannya dengan tanah, tak bersisa. Ratusan ribu meninggal. Kerugian tak terhitung. Lalu, andai itu Tuhan datangkan pula untuk sumbar, entah apa yang akan terjadi.
Senja merangkak. Matahari kian bersembunyi dan masuk ke dalam laut. Lampu-lampu pantai mulai kelihatan. Lampu nelayan dari kejauhan. Sementara david yang ditunggu belum kunjung datang.
“Masuk lurus dari simpang empat adzkia damar, belok kanan di simpang tiga tepi pantai. Lurus terus. Aku Di depan danau cimpago”.
Adzan berkumandang. Dan mataharipun sudah bersembunyi ke dalam laut. Sayang, pantai telah menyeret ketentraman hingga ke tepi. Pantai telah meminggirkan angan-angan. Desir ombak di pantai padang membawa pesan tuhan. Sayang, tak terbaca bagi banyak orang. Kecuali sedikit. Pasang surut air laut, bukan tanpa makna. Mungkin saja kabar duka orang-orang terdahulu belum sampai kepada mereka.
Menunggu Adinda David Satria sehari menjelang gempa. Berjalan ke pantai dengan suasana asing. Hanya gelengan kepala tak percaya.











Dak berserebab juga
Adinda Datang.
Hehe,
Danau cimpago, baru tahu, kalau ternyata itu danau. Mungkin airnya Asin. Juga ada kenangan malam itu, sehari sebelum gempa. Jauh dari janji… Agaknya, Allah belum mengizinkan kita bertemu hari itu.
Siluetnya senja, luar biasa, sore itu. Entah karena jarang berjumpa laut di Medan -nan ramah-, atau memang karena senja itu jauh lebih indah dibanding senja-senja sebelumnya.
Ataukah, jatah keindahan senja esok harinya, sudah dicurahkan hari itu. Kemudian, esoknya, ada “modifikasi” senja di Padang Kota Tercinta. Siluetnya senja, tak lagi siluet. Merahnya padam, hitamnya pekat..
Moga, ada kesempatan lagi bertemu disana. Setidaknya, sebagai pengganti pertemuan yang tak “berserebab”.
NB : S4 mengabadikan Potret Senja di Pantai Padang, kala itu.
http://picasaweb.google.com/hamdalah2/H1Gempa#
Hmm…kita memang tak berserebab sore itu. Tapi Allah punya skrenario cantik, senantiasa. Selamanya.
Seperti siluet senja yang kau bawa pulang, dinda. Dia bisa bercerita banyak. Kali saja ada “medan” lain seperti yang ditimpakan di “padang-padang” bencana.
Akupun membawanya pulang, walau hanya dalam kenangan. Tapi cukuplah. Ia tetap bisa dibentangkan.
Sebab senja telah dimodifikasi. Kemarin ke pantai lagi selepas dari Pariaman. Di Depan Danau Cimpago tak boleh lai ada yang lalu lalang. Ada jalan yang di hadang kayu-kayu melintang. Ada jalan-jalan “rengkah” yang sempat kau bawa pulang.
kita sama-sama menantikan skenario cantik lain dari-Nya
Kali saja kita akan menemukan pantai yang mampu merawat ketentraman
hmm…
hee..he..
asyik mah da
pakai tunggu-tungu bagai mah
ado yang lain ndak Da.
Wak doakan se Uda, menemukan pantai yang lain yang mampu merawat ketentraman tu
aminnn
to Ust HAsdi :
like this note…
thanks,
btw, bukunya gimana?
semoga dah kelar. Amin
buku mentoring Da?
belum ada rapat tim media lagi Da…
jadi, masi dalam proses kayaknyo Da…
yup. buku mentoring.
hmmm…belum ada rapat dan masih dalam proses
semoga capek prosesnyo…
kabarnya mentoring alah bajalan
kalau ado buku yang lain dak baa juo do
any idea?
amiin..
hmm….bingung lo Da…
kalau misalnyo dalam bentuk e-book dulu di agiahan ka adiak2 tu baa Da..
jadi soft buku yg patang….
tapi, pertim,bangannyo dikembalikan lagi ke forum, Da…
hmm..
Lah pindah *b ka siko yeh..
like This lo lah…
pindah
sementara biarlah begini